...

Mengenal Zapin Kepulauan Riau *Zapin Kote Kab Lingga*

8919 | Ditulis oleh admin

Zapin atau zafin adalah sejenis tarian yang pada dasarnya merupakan bentuk permainan menggunakan kaki yang semula hanya dimainkan oleh kelompok laki-laki saja, hal tersebut dilakukan oleh orang-orang Arab setelah melakukan perjalanan jauh merentas gurun pasir lalu mereka berkemah, dan dalam peristirahatannya mereka melepas lelahnya dengan menghibur diri sambil duduk di perapian menghilangkan dinginnya malam hari. Di gurun pasir mereka bermain seperti menari. Didalam bahasa Arabnya tari zapin disebut dengan "Al Raqh Wal Zafn", yang berarti menari dengan menggunakan kaki.

Zapin di Kepulauan Riau tercatat dalam naskah Melayu Perkawinan Anak Si Komeng yang ditulis pada tahun 1897 dan Syair Perkahwinan Raja Muhammad Yusuf dengan Raja Zaleha yang ditulis pada tahun 1921. Kedua naskah menggambarkan kesenian masa pemerintahan sultan terakhir Riau-Lingga, Sultan Abdul Rahman Al- Muazam Syah. Kedua syair itu menggambarkan keberadaan kesenian Zapin di Kerajaan Riau-Lingga yang diperkirakan sejak awal tahun 1900-an. Sumber : Warisan Budaya Takbenda Tradisi dan Budaya Melayu Lingga Bunda Tanah Melayu tahun 2020.

Awal mula kehadiran zapin di Bumi segantang Lada ini adalah dengan hijrahnya seorang Ulama dan Guru dari tanah Kalimantan Barat tepatnya dari sambas yang bernama Encik Rifin yang merupakan murid langsung dari Encik Muhammad Ali Sambas, beliau bermaustatin di Pulau Penyengat pada tahun 1919, hal tersebut dibuktikan ileh cerita orang-orang tua. Sebut saja Raja Ahmad bin Raja Daud beliau bekerja sebagai Mentri Ukur dan pernah menerima Penghargaan sebagai Tokoh Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Riau pada tahun 1979. Jasa beliau inilah yang telah mengembangkan seni tradisi Melayu yang juga termasuk tari zapin sampai ke Pulau Karimun, Batam, Lingga, Siantan dan Bunguran, hal ini terjadi sekitar tahun 1929.

Dan seorang lagi bernama Said Husin Al-Atas lahir pada tahun 1910 beliau seorang Budayawan Melayu Riau (Kepulauan Riau saat ini), mendapat Tari Zapin juga di Pulau Penyengat oleh Encik Rifin pada tahun 1931-1932. Lalu oleh Said Husin inilah perkembangan tari zapin sampai ke daerah Kijang serta Pulau-pulau Mantang dan sekitarnya. Begitu juga halnya dengan Raja Nongmad yang berada di Pulau Batam, beliau mengembangkan zapin sampai ke Belakang Padang dan pulau-pulau sekitarnya. Kepulauan Riau memiliki bentuk dan langkah yang sangat beragam; dengan sebutan Negeri Segantang Lada yang terdiri atas beribu pulau besar dan kecil, dn oleh sebab itulah maka dengan sendirinya akan membentuk langkah-langkah zapin dimana ia berada dalam berbagai sebutan pula.

Pada akhirnya zapin Kepulauan Riau diberikan julukan dengan nama Zapin Pesisir, yang menurut kabar dari generasi ke generasi jumlah langkah, ragam dan bentuk zapin di Kepulauan Riau hampir terdapat 350 jenis. Tambelan memiliki bentuk zapin yang khusus dengan zapin tembung, zapin tali atau zapin laba-laba. Begitu kuga di kawasan Natuna, memiliki bentuk zapinnya sendiri. Daik Lingga, Senayang, Karimun, Kundur juga mempunyai gerak zapin yang khusus pula.

Pulau Penyengat dimana tempat awal zapin diperkenalkan pada tahun 1919 oleh Encik Rifin memiliki gerak zapin tersendiri, seperti Langkah Satu, Langkah Dua, Langkah Bunga, Titi Batang, Ayak-ayak dan Pusat Belanak. Beberapa daerah di Kepulauan Riau tercatat sejak pertengahan tahun 1940 -an, Tari Zapin dikenal di Kepulauan Karimun tepatnya di Pulau Parit dimana asal muasalnya dari Pulau Penyengat.

Alkisah seorang yang berketurunan Bugis, bernama Kasim atau dikenal dengan panggilan Wak Saok, membawa berlayar tari zapin penyengat ini dengan berdayung dan berlayar, dari Pulau Penyengat menuju Kepulauan Karimun, dan terdampar di sebuah pulau besar di seberang pusat Pemerintahan Karimun. Masyarakat Pulau Parit ternyata menyambut baik pengembangan tari zapin ini, sehingga kelompok anak-anak muda ketika itu, sebut saja Tok Husin Zein (80 tahun), Tok Ishak bin Muhammad Ya'cob (80 tahun), dan untuk pertamakalinya persembahan/penampilan tari zapin di Karimun pada tahun 1948 pada acara hiburan rakyat memperingati HUT Kemerdekaan RI di Karimun. Bentuk dasar tari zapin dari pulau parit Karimun ini, sangat khas dan khusus, dimana tidak memiliki sebutan atau nama yang khusus untuk masing-masing ragam gerak tarinya, cukup dikenal dengan Sebutan Langkah Tiga, Empat, Enam, Delapan, Sembilan dan Dua Belas, Langkah Bebas dan Yaman. Sumber: Mengenal Dasar Tari Zapin Jilid-1 Kumpulan Mahzab Zapin, Bhineka Surya tahun 2012. 

Salah satu jenis Zapin di Kepulauan Riau yang lain adalah Zapin Kote. Zapin kote merupakan varian dari tari Zapin, tarian melayu yang erat kaitannya dengan penyebaran agama Islam dipesisir nusantara. Zapin kote merupakan tarian yang lebih menonjolkan gerakan dan langkah kaki. Dalam hal ini tari Zapin Kote menjadi unik karena menghadirkan gerakanan yang cenderung lebih energik, volume gerak kaki yang lebih lebar disertai loncatan-loncatan serta penekanan-penekanan pada gerakannya. Tarian ini disajikan dalam tiga tahap, yakni tahap pembuka, tahap tengah (isi), serta tahap akhir sebagai penutup. 

Tari Zapin Kote merupakan tarian yang lahir dan berkembang di Lingga tepatnya di Desa Kote Kecamatan Singkep Pesisir Kabupaten Lingga. Pada awalnya tari Zapin hanya ditarikan oleh penari laki-laki saja, namun seiring perkembangan zaman tari Zapin ini ditarikan juga ditarikan oleh perempuan. Tari Zapin Kote memiliki simbol dan makna luas yang sangat dekat dengan simbol dan makna kehidupan sosial, pendidikan, adat istiadat melayu yang tidak lepas dengan simbol dan makna yang berkaitan dengan ketuhanan (religi). 

Jadi asal Zapin Kote dikembangkan dahulunya oleh datuk-datuk yang mengajarkan gerak Zapin tersebut dan diturunkan ke generasi-generasi semua dan dilestarikan (menurut pendapat Pak Cik Zaini, Penari Zapin Kote, 2020). Langkah Zapin Kote terdiri dari empat langkah, setiap geraknya melambangkan sifat Rasul (shiddiq, amanah, fathanah, dan tabligh). Langkah ini merupakan syariat yang bertalian dengan ruh yeng menegakkannya. Empat langkah tersebut terbagi lagi dalam beberapa gerakan yaitu gerak hormat pembukaan, gerak sembah, sembah alip biasa, gerak bunga alip, gerak pusing, gerak siku keluang, gerak sud mundur, gerak pecah delapan, gerak sud mundur, gerak pecah delapan, gerak geliat, gerak pusing jadi, gerak tongkah, gerak ayam patah, gerak seribut, gerak pecah delapan sud, gerak minta tahto, gerak tahto, dan diakhiri dengan gerak sembah kembali.Jadi Zapin Kote memiliki ke khasan yang lain yaitu :

  1. Gerakan ayunan tangan penari pada saat menari dominan serentak seiring ke arah depan dan belakang
  2. Ada beberapa langkah seperti langkah  gerak ayam patah dan gerak seribut yang merupakan gerakan khas dari zapin Kote.
  3. Lagu yang sering digunakan yaitu, Sultan Palembang, Anak Ayam, Kuda Hablur, Sungai Siak, Rumbia, Pelantar Rubuh dan Lancang Kuning dengan irama yang khas, tidak seperti irama lazimnya.
  4. Tarian Zapin Kote biasanya dipersembahkan pada perayaaan adat istiadat perkawinan, acara khatam Al-Quran, dan sekarang Zapin Kote ini sudah dipersembahkan dalam pertunjukan perhelatan. Sumber : Warisan Budaya Takbenda Tradisi dan Budaya Melayu Lingga Bunda Tanah Melayu tahun 2020.

 

Narahubung

Dinas Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau
Alamat : Jalan Sultan Mansyur Syah – Gedung Engku Putri Lembaga Adat Melayu ( LAM ) Dompak – Provinsi Kepulauan Riau
Email : bidangkesenian.disbudprov@gmail.com
Contact Person : 083809862654 (Only Chat)
Copyright © Dinas Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau 2021