Catatan Ingatan; Narasi Pembuka Untuk Seminar Antara Bangsa di FSIGB 2022
354 | Ditulis oleh Admin
Adalah Sang Sapurba, nabi Adamnya para bangsawan Melayu dan Minangkabau, yang menurunkan silsilah raja-raja, sebagai awal dari segalanya. Namun dua ratus tahun sebelum tokoh ikonik ini turun dari kabut misteri Bukit Siguntang, bangsa Italia sudah membangun University of Bologna (1088).
Kemudian dua abad sebelum Majapahit berdiri, orang Inggris sudah membuka University of Oxford (1096). Kedua universitas tersebut berada dalam tradisi kemaritiman, sama seperti kita. Di tahun yang sama Eropa memulai ziarah bersenjata ke tanah suci Yerusalem yang kemudian dikenal sebagai Perang Salib, menyerbu negeri-negeri yang telah menginspirasi mereka tentang sebuah universitas.
Bahkan 1.500 tahun sebelumnya, Plato telah mendirikan akademi yang dikenal dengan Platonic Academy, dengan diksi-diksi filosofis dan muatan sastra yang menjangkau seberang laut Mediterania.
Sehingga dari fakta tersebut saya ingin menyatakan dakwaan sementara bahwa kita adalah sebuah bangsa yang sangat muda dan pemula dalam sejarah melembagakan serta membangun bahasa dan sastra (didominasi dalam tinjauan 300 tahun terakhir). Kita kemudian menjadi bangsa yang lelah dan tidak punya banyak waktu karena tersita oleh sejarah feodalisme dan kolonialisme. Kita hampir tidak mempunyai catatan tentang bagaimana pikiran dibangun, tentang postulat-postulat, penciptaan diksi-diksi, dan terminologi akademis.
Tubuh bahasa dan sastra kita mengalami stunting dan lemah, sendi-sendi bahasa kita semula terbentuk oleh bahasa kitab suci: Hindu, Budha, dan Islam yang datang dari seberang lautan, epos-epos India dan Yunani, serta percakapan kontak bisnis klasik, lingua franca yang disumbangkan oleh etnik Melayu. Lalu sepanjang abad-abad penjajahan tubuh bahasa dan sastra kita hingga hari ini harus ditopang oleh produk-produk impor, dari lidah penuh alkohol, ras kolonial: Portugis, Belanda dan Inggris.
Saya berharap fakta-fakta tersebut tidak membuat kita berkecil hati atau bermaksud men-discourage spirit kebahasaan kita, kita perlu penguatan dan perspektif yang mencerahkan dari para pembicara atau penampil yang hadir dalam seminar hari ini.
Saya memiliki ekspekstasi bahwa apa yang akan disampaikan oleh para pembicara tidak hanya narasi-narasi historical (historical opinion), tapi juga quo vadis, we need go the extra mile? Mau dibawa kemana sastra maritim kita dan bagaimana ia bisa bertahan di era 4.0, dengan gejolak Artifcial Intelligence dan Big Data, yang kemudian mampu menciptakan robot-robot sastra, dan Machine Learning yang bisa membuat puisi dalam hitungan detik.
Sebagai catatan, Aidan Meller dari Oxford, seorang seniman robot humanoid ultra-realistis pertama di dunia, telah berhasil menciptakan Ai-Da, robot wanita yang mampu menciptakan puisi sekelas Dante dengan memanfaatkan algoritma. Bagaimana masa depan penyair setelah ini? Sekali lagi, bagaimana masa depan penyair setelah ini? Kita simpan pertanyaan itu untuk para narasumber.
Ditulis Oleh Datok Muhammad Natsir Tahar***